Sosiolog: Kerentanan Tingkat Emosional Pemicu Remaja Lakukan Kekerasan

Sosiolog: Kerentanan Tingkat Emosional Pemicu Remaja Lakukan Kekerasan

Ilustrasi (Pexels)

(jw/rzd)

Selasa, 14 Mei 2019 | 11:43

Analisadaily (Medan) - Rentannya tingkat emosional seorang remaja, cenderung membuat mereka nekad melakukan tindakan kekerasan. Bahkan, salah satu penyebabnya adalah faktor pergaulan.

Seperti yang terjadi belakangan ini. Para remaja kerap menjadi objek pertikaian saat bulan suci Ramadan dan kerap meresahkan masyarakat untuk melaksanakan ibadah puasa.

Menurut Sosiolog Universitas Sumatera Utara (USU), Harmona Daulay, hal tersebut karena adanya fase pancaroba yang terjadi pada anak-anak remaja.

"Mereka itu sudah masuk dalam tipe konflik. Para remaja lebih cenderung untuk melakukan tindakan kekerasan seperti tawuran untuk menampilkan di antara kelompok mereka siapa yang paling kuat," katanya kepada Analisadaily.com, Selasa (14/5).

Harmona juga menjelaskan, pola asuh yang mereka (remaja) terima juga termasuk dalam role model, baik di lingkungan rumah dan sekolah juga memengaruhi tingkat laku pada anak remaja.

"Bahkan, dari dunia maya juga bisa mereka dapat dan meniru aksi-aksi kekerasan. Artinya, mereka juga melakukan proses imitasi atau meniru dengan apa yang mereka lihat dan dari kelompok mereka. Karena mereka ingin tampil," jelasnya.

Harmona juga mengungkapkan, momen pada saat Ramadan ini merupakan suatu momen untuk menampilkan bagi kelompok remaja siapa yang paling kuat. Bahkan sekalipun untuk melakukan tawuran.

"Selain itu banyak alasan mereka kepada keluarga, seperti kumpul saat sahur on the road untuk berkumpul sesama kelompok mereka dan melancarkan aksinya tersebut untuk menunjukkan ke kelompok lain," ungkapnya.

Keluarga Menjadi Benteng

Harmona berharap, untuk membenteng anak agar tidak melakukan hal yang banyak merugikan orang lain tersebut adalah keluarga, yang selalu memberikan edukasi positif kepada anak mereka khususnya yang remaja.

"Pengawasan orang tua paling utama, karena orang tua harus bisa memberikan masukan yang positif kepada anak. Faktor lingkungan juga kerap menjadi anak dapat meniru yang ada di sekeliling mereka," pungkasnya.

(jw/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar