Skrining Berpotensi Deteksi Kanker Ovarium Lebih Dini

Penulis: Elfa Harahap | Editor: Lely Novita

Skrining Berpotensi Deteksi Kanker Ovarium Lebih Dini

Ilustrasi (BBC)

Sabtu, 19 Desember 2015 | 08:22

Analisadaily - Collaborative Trial of Ovarian Cancer Screening di Inggris menjadi salah satu uji klinis terbesar yang ada. Mereka sendiri tengah meneliti kanker ovarium dan mendeteksinya lebih dini melalui skrining.

Para peneliti menyatakan, skrining berpotensi untuk hal tersebut. Hanya saja, para peneliti dan ahli independen mengatakan masih terlalu dini untuk melakukan skrining massal karena kekhawatiran tentang analisis yang harus dilakukan lebih lanjut.

Dilaporkan dari BBC, Kamis (17/12), kanker ovarium selama ini sulit ditangani karena keterlambatan mengetahuinya. Ditambah lagi, gejala kanker ovarium juga sulit diketahui karen terlalu umum, misalnya sakit perut, kembung, sulit makan, dan kondisi umum lainnya.

Sebuah penelitian selama 14 tahun yang melibatkan 200.000 perempuan dinyatakan berpotensi melakukan skrining kanker.

Collaborative Trial of Ovarian Cancer Screening dalam penelitiannya memantau kadar bahan kimia yang disebut CA125 dalam darah perempuan. Dokter melacak perubahan kadar CA125 yang diproduksi oleh jaringan ovarium dari waktu ke waktu.

Jika tingkat CA125 dalam darah tinggi, maka seorang wanita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan akhirnya menjalani operasi. Saat ini, tindakan tersebut menjadi tindakan yang kontroversial.

(BBC)

Ilustrasi (BBC)

Analisis statistik awal menunjukkan tidak ada manfaat skrining setelah kanker menyebar luas. Tapi, ada manfaat skrining ketika dideteksi sejak awal. Para peneliti kemudian melakukan analisis statistik lebih untuk menunjukkan manfaat skrining.

“Kami tidak memiliki bukti yang jelas tentang skrining, tapi apa yang kami temukan benar-benar mendorong sekitar 20% pengurangan kanker. Itu yang perlu kami konfirmasi,” kata pemimpin penelitian Prof. Usha Menon dari UCL.

Sejauh ini, para peneliti terus memeriksa pasien selama tiga tahun kedepan agar manfaat dari skrining akurat 100 persen dan dapat digunakan pada kanker ovarium.

"Melakukan analisis tambahan dapat dilihat sebagai respon yang tepat untuk lebih mengumpulkan data. Semakin banyak analisis yang dilakukan, semakin besar kemungkinan. Hasilnya menjanjikan, tapi mungkin tidak semua,” kata Kevin McConway, seorang profesor statistik di Open University.

Ada juga risiko skrining yang dapat merugikan dan menyebabkan beberapa wanita menjalani operasi untuk menghapus kanker yang sudah menjinak.

"Meskipun demikian, penelitian ini merupakan langkah penting dalam merancang keefektifan skrining untuk kanker ovarium yang sering digambarkan sebagai silent killer,” kata Dr Adam Shaw, pemimpin klinis untuk kanker genetika di Guy & St Thomas NHS Foundation Trust.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar