Risiko Penyakit Kritis Kaum Produktif Meningkat

Risiko Penyakit Kritis Kaum Produktif Meningkat

Peluncuran Zurich Principle Care di Medan, Kamis (6/9).

(rel/rzd)

Kamis, 6 September 2018 | 16:12

Analisadaily (Medan) - Kaum usia produktif merupakan penentu masa depan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2016 menunjukkan, 50% lebih penduduk Indonesia adalah usia produktif, dengan kelompok usia mendominasi 15 hingga 39 tahun. Jumlahnya sekitar 84,75 juta atau 32% dari total penduduk Indonesia.

Seiring dengan perkembangan kondisi lingkungan, gaya hidup modern dan pola makan, kaum usia produktif memiliki risiko terpapar penyakit kritis yang lebih tinggi. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di tahun 2015 sedikitnya lebih dari 48 ribu orang meninggal dunia setiap harinya karena penyakit kardiovaskular.

Dokter berprestasi sekaligus aktris, dr. Lula Kamal, M.Sc. mengatakan, dalam laporan WHO juga disebutkan, pada tahun 2020 tiga perempat kematian di negara berkembang disebabkan oleh penyakit kritis. Di Indonesia sendiri, terdapat 3 penyakit kritis tertinggi yang menyebabkan kematian, kardiovaskular, kanker, dan diabetes.

“Saat ini penyakit kritis tidak terbatas pada mereka yang berusia tua. Generasi produktif di daerah urban dan sub urban turut memiliki potensi lebih tinggi akan penyakit kritis, karena stress level dan gaya hidup. Bahkan polusi di kota besar menjadi penyebab maraknya penyakit kritis,” kata Lula Kamal dalam peluncuran Zurich Principle Care di Medan, Kamis (6/9).

Selain risiko kematian yang tinggi, penyakit kritis juga dikenal memiliki biaya medis yang tinggi, sebagai contoh biaya perawatan penyakit kanker tiap bulannya bisa mencapai ratusan juta. Pemahaman pentingnya perlindungan asuransi kritis pun mulai meningkat.

Hasil riset JakPat bekerjasama dengan Zurich menunjukkan, 39,72% atau lebih dari sepertiga responden melihat, perlindungan penyakit kritis menjadi salah satu manfaat yang paling diharapkan dari sebuah asuransi kesehatan. Apalagi dengan terus inflasi biaya medis yang terus meninggi.

Menurut Tower Watson Global Medical Trend Survey Report, biaya kesehatan di Indonesia meningkat sekitar 79% selama periode 2010-2014. Kementerian Kesehatan di tahun 2016 mengklaim, penyakit kritis telah menyerap anggaran tinggi sekitar Rp 1,69 triliun atau 29,67% dari total anggaran nasional. Hal ini mencerminkan bagaimana beban finansial dari penyakit kritis dapat memengaruhi kesejahteraan finansial seseorang.

Chief Training & Recruitment Officer Zurich Topas Life, Arnold Lihawa mengatakan, melalui kehadiran Zurich Principle Care, selain membantu melindungi ekosistem finansial bagi kaum usia produktif, juga bertujuan untuk mendukung dan membantu pemerintah dalam mengupayakan perlindungan penyakit kritis bagi masyarakat, sehingga dapat fokus mencapai produktivitas maksimal.

Zurich Principle Care memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis penyakit kritis, termasuk stroke, jantung, kanker, gagal ginjal, sirosis hepatitis, haemofilia, leukimia, dan thalesemia. Produk inovasi ini juga memberikan manfaat klaim maksimal sampai 3 kali, klaim penyakit kanker lanjutan, manfaat angioplasti, layanan opini medis kedua, serta manfaat meninggal dunia.

“Melalui inovasi ini, kami ingin membantu kaum dan keluarga muda Indonesia agar lebih siap dalam menghadapi risiko penyakit kritis. Dengan mengambil alih risiko beban finansial dari penyakit kritis sejak dini, maka kaum muda dapat fokus untuk berkarya dan mengejar passion-nya,” ucapnya.

(rel/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar