Prodia Gelar 'Autoimmune Wellnes', Para Dokter Diedukasi Tentang Penyakit Autoimun

Prodia Gelar 'Autoimmune Wellnes', Para Dokter Diedukasi Tentang Penyakit Autoimun

Seminar nasional tentang penyakit autoimun di Gedung Grha Prodia Medan, Sabtu (25/8).

(rel/rzd)

Sabtu, 25 Agustus 2018 | 17:02

Analisadaily (Medan) - Pernah mengenal autoimun? Ini merupakan penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem imun yang ditandai dengan reaktivitas sistem imun baik sel T maupun sel B atau autoantibodi melawan sel tubuh sendiri, atau autoantigen.

Penyakit autoimun yang sering ditemukan seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang umum dikenal dengan penyakit lupus. Di Indonesia, penyakit lupus memiliki angka kejadian LSE di Indonesia sebesar 0,5 % dari total populasi penduduk Indonesia.

Melihat kondisi tersebut, Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi centre of excellence bagi mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi dalam bentuk seminar yang diselenggarakan di 18 kota besar di Indonesia.

Seminar mengangkat penyakit autoimun sebagai tema besar. Seminar nasional mengusung tema ‘Good Doctor for Better Autoimmune Treatments’. Melalui seminar bersama para dokter, diharapkan para dokter mendapatkan informasi lebih lengkap tentang penyakit autoimun.

Medan menjadi kota ke-13 seminar dan diikuti sekitar 120 dokter. Digelar di Gedung Grha Prodia Medan, menghadirkan para dokter spesialis di bidang penyakit autoimun, seperti Dr.dr. Iris Rengganis, Sp.PD., KAI, FINASIM, dan Dr.dr. Blondina Marpaung, Sp.PD., KR.

Dalam seminar, dr. Iris dan dr. Blondina memaparkan tentang patofisiologi, jenis-jenis autoimun, faktor risiko, diagnosis pencegahan dan pengelolaan, termasuk nutrisi. Sementara Gianni Yosephine, S.Si. selaku Product Specialist Prodia memaparkan biomarker dalam menegakkan diagnosis autoimun serta pemeriksaan pendukung.

dr. Iris mengatakan, penyakit autoimun belum bisa dipastikan penyebabnya, dan gejalanya pun tidak khusus. Akibatnya, penyakit autoimun ini tidak mudah dikenali, sehingga memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosisnya.

“Jumlah dokter ahli penyakit autoimun pun belum banyak di Indonesia, sehingga seringkali ketika dirujuk, sudah parah, karena tidak dikenali sejak dini,” katanya, Sabtu (25/8).

Dijelaskannya, autoimun menjadi penyakit yang belum banyak disadari masyarakat. Penelitian terkait penyakit autoimun sangat jarang, karena jenis penyakit autoimun sendiri ada 80 jenis. Oleh karena itu, sangat penting bagi dokter mendapatkan update informasi.

“Agar para dokter dapat melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala maupun yang sudah mengalami autoimun,” jelasnya.

dr. Blondina menerangkan, angka kejadian autoimun cukup banyak, khususnya pada wanita. Tetapi kesadaran masyarakat masih sangat kurang akan penyakit autoimun. Menurutnya, angka kejadian penyakit autoimun cukup mengkhawatirkan, apalagi kejadiannya lebih tinggi dialami wanita dibandingkan pria.

“Penting sekali bagi para dokter untuk mengetahui lebih banyak informasi terkait penyakit autoimun ini,” terangnya.

Para pembicara dalam seminar nasional tentang penyakit autoimun di Gedung Grha Prodia Medan.

Para pembicara dalam seminar nasional tentang penyakit autoimun di Gedung Grha Prodia Medan.

Product Specialist Prodia, Gianni Yosephine menambahkan, pihaknya menyediakan pemeriksaan-pemeriksaan lab yang dapat menunjang diagnosis para dokter terhadap penyakit autoimun, seperti pemeriksaan ANA IF, ANA Profile, ANTI dsDNA NcX, ProALD, AMA M2.

Pemeriksaan lanjutan terkait jenis-jenis autoimun itu sendiri juga tersedia, misalnya saja AIH untuk autoimun hepatitis; Laju Endap Darah (LED), ANA, antobodi spesifik seperti: Antitopoismerase-1 (anti-scl-70) dan Anticentromere antibody (ACA) serta urinalisis, untuk diagnosis sklerodema dan masih banyak lagi.

“Kita juga menyediakan pemeriksaan Vitamin D-25 OH Total untuk menilai kecukupan vitamin D dalam tubuh,” ujarnya.

Direktur Bisnis dan Marketing PT Prodia Widyahusada Tbk, Indriyanti Rafi Sukmawati menyatakan, seminar nasional ini rutin dilakukan dengan para dokter. Hal ini untuk memfasilitasi para dokter di Indonesia terkait informasi ter-update seputar penyakit, gejala, diagnosis, hingga pengobatannya.

“Tema-tema yang dipilih juga akan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan para dokter untuk diketahui lebih dalam,” tandasnya.

(rel/rzd)

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar