Perokok Berisiko Kena Stroke Lebih dari Sekali

Penulis: Christison Sondang Pane

Perokok Berisiko Kena Stroke Lebih dari Sekali

Ilustrasi (Pixabay)
 

Sabtu, 18 Mei 2019 | 17:19

Analisadaily – Merokok telah lama dikaitkan dengan peningkatan penyakit kardiovaskular, serangan jantung serius dan stroke. Baru-baru ini studi di China menyebutkan, merokok memengaruhi risiko stroke kedua pada pasien yang sudah pernah mengalaminya.

Perkok lebih memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke daripada orang yang tidak pernah merokok sama sekali, bahkan jika mereka berhasil berhenti setelah stroker pertama.

Akan tetapi, perokok yang berhenti setelah stroke pertama, 29 persen lebih rendah untuk kedua kalinya terkena daripada yang terus merokok.

“Merokok setelah stroke memiliki efek yang sama pada tubuh sebelum stroke pertama,” kata seorang peneliti di Univesity Collage London di Inggris, Allan Hackshaw yang tidak tidak terlibat dalam penelitian ini dilansir dari Reuters, Sabtu (18/5).

“Ini dapat menyebabkan masalah dengan alirah darah di otak, dan berkontribusi pada pembentukan gumpalan darah, dan salah satu dari ini meningkatkan kemungkinan terkena stroke. Berhenti akan mengurangi sedikit, tetapi studi menunjukkan, berhenti selamanya berpotensi besar tidak kena kedua kalinya,” tambah Allan.

Penelitian ini melibatkan 3.069 penderita stroke, dan 1.475 atau 48 persen di antaranya perokok, dan sembilan persen lainnya mantan perokok. Di antara perokok itu, 908 atau 62 persen, berhasil berhenti dalam beberapa bulan setelah stroke.

Semua pasien dalam penelitian ini bertahan setidaknya selama tiga bulan setelah stroke. Risiko perokok akibat stroke berulang meningkat dengan jumlah rokok yang dihisap setiap hari.

Dibandingkan dengan yang bukan perokok, perokok saat ini yang memiliki 20 batang rokok perhari 68 persen lebih mungkin mengalami stroke berulang. Sementara risikonya hampir tiga kali lipat untuk yang merokok lebih dari 40 batang sehari.

Perokok saat ini lebih muda dan cenderung memiliki kondisi seperti tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung atau penyakit jantung koroner daripada bukan perokok. Mereka juga lebih cenderung menjadi peminum berat daripada bukan perokok.

Penelitian ini bukan eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apakah atau bagaimana merokok menyebabkan stroke berulang.

Dr. Gelin Xu dari Universitas Kedokteran Nanjing di Jiangsu, Cina, dan rekannya menuliskan dalam Journal of American Heart Association, salah satu batasan penelitian ini adalah potensi bagi perokok untuk mengalami perubahan gaya hidup lainnya ketika mereka berhenti - seperti meningkatkan kebiasaan makan dan olahraga - yang berkontribusi pada pengurangan risiko stroke.

Dr. Michael Hill dari Cumming School of Medicine di University of Calgary di Kanada menyampaikan, hasilnya menambah sejumlah bukti yang berhenti merokok risiko stroke berkurang, dan yang terus merokokk, risiko stroke-nya meningkat.

"Merokok adalah hal terburuk yang dapat Anda lakukan untuk kesehatan Anda. Ya, berhenti banyak membantu, tetapi sulit karena membuat kecanduan," kata Hill, yang juga tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar