Penderita Obesitas Lebih Mudah Stres

Penulis: Elfa | Editor: Eka Azwin Lubis

Penderita Obesitas Lebih Mudah Stres

Ilustrasi (Fox News)

Minggu, 2 April 2017 | 10:30

Analisadaily - Tim peneliti dari Inggris menggunakan rambut dalam mengukur tingkat stres jangka panjang yang disebabkan melonjaknya hormon kortisol. Dari hasil penelitian, mereka yang mengalami obesitas diketahui lebih mudah terkena stres.

"Ketika orang-orang menghadapi situasi stres, reaksi berantai mulai dari dalam tubuh yang menyebabkan pelepasan kortisol dan kemudian mengarah ke tingkat yang lebih tinggi dari hormon dalam tubuh," kata peneliti dari University College London, Sarah Jackson.

"Kortisol terlibat dalam berbagai proses biologis, termasuk metabolisme, komposisi tubuh dan akumulasi lemak tubuh. Ketika sedang stres, kita juga bisa merasa lebih sulit untuk menemukan motivasi yang baik. Pada akhirnya kita lebih memilih makanan yang tidak sehat," tambah Sarah, dilansir dari Fox News, Minggu (2/4).

Penelitian sebelumnya mengaitkan stres dengan tingkat tinggi kortisol dalam darah, urine atau air liur.

Untuk penelitian ini, tim memeriksa data yang dikumpulkan dari pria dan wanita berusia 54 tahun ke atas. Keseluruhan peserta diminta menjalani pengujian setiap dua tahun dan memberikan rambut mereka untuk diteliti.

Para peneliti mengukur kadar kortisol dalam dua sentimeter rambut yang paling dekat dengan kulit kepala. Berat badan, lingkar pinggang dan indeks massa tubuh (BMI) juga dihitung. Hasilnya, mereka yang kelebihan kortisol pada rambut cenderung menjadi gemuk.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar