Kekurangan Vitamin D Salah Satu Penyebab Penyakit Autoimun

Kekurangan Vitamin D Salah Satu Penyebab Penyakit Autoimun

Para pembicara dalam seminar nasional tentang penyakit autoimun di Gedung Grha Prodia Medan.

(rel/rzd)

Sabtu, 25 Agustus 2018 | 17:51

Analisadaily (Medan) - Dokter spesialis di bidang penyakit autoimun, Dr.dr. Iris Rengganis, Sp.PD., KAI, FINASIM, mengatakan, autoimun memang paling banyak terjadi karena genetik. Tetapi saat ini telah ada penelitian yang menyatakan bahwa defisiensi atau kekurangan kadar vitamin D dalam tubuh dapat menjadi salah satu faktor seseorang mengalami penyakit autoimun.

Hal itu dikatakan dr. Iris dalam seminar nasional mengusung tema ‘Good Doctor for Better Autoimmune Treatments’ yang digelar Prodia dan berlangsung di Gedung Grha Prodia Medan. Seminar nasional diselenggarakan di 18 kota besar di Indonesia, dan Medan kota ke-13 dengan mengangkat penyakit autoimun sebagai tema besarnya. Seminar di Medan diikuti sekitar 120 dokter.

“Setelah diteliti ke mereka yang mengalami penyakit autoimun, ditemukan nilai kadar vitamin D-nya sangat kecil. Kita juga perlu berhati-hati dengan ini, dan para dokter perlu tahu,” katanya, Sabtu (25/8).

Dijelaskannya, di Indonesia prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita berusia 45 hingga 55 tahun adalah sekitar 50 %. Penelitian di Indonesia dan Malaysia menemukan defisiensi vitamin D sebesar 63 % terjadi pada wanita usia 18 hingga 40 tahun. Sedangkan penelitian pada anak dengan usia 1 hingga 12,9 tahun, ditemukan 45 % anak mengalami insufisiensi vitamin D.

“Autoimun menjadi penyakit yang belum banyak disadari masyarakat. Penyakit ini terjadi karena hiperaktivitas dari antibodi. Nah, antibodi eror dan menyerang tubuh kita sendiri, seharusnya menyerang benda asing yang masuk ke tubuh kita. Penelitian terkait penyakit ini memang jarang, karena jenis penyakit autoimun sendiri ada 80 jenis. Sangat penting bagi para dokter mendapat update informasi, agar dapat melakukan tindakan medis yang tepat,” jelasnya.

Sementara Dr.dr. Blondina Marpaung, Sp.PD., KR, yang juga selaku dokter spesialis di bidang penyakit autoimun menambahkan, angka kejadian autoimun cukup banyak, khususnya pada wanita. Tetapi kesadaran masyarakat masih sangat kurang akan penyakit autoimun ini. Padahal angka kejadian penyakit autoimun cukup mengkhawatirkan.

“Apalagi kejadiannya lebih tinggi dialami oleh wanita dibandingkan pria. Oleh karena itu, penting sekali bagi para dokter untuk mengetahui lebih banyak informasi terkait penyakit autoimun ini,” ucapnya.

Autoimun merupakan penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem imun yang ditandai dengan reaktivitas sistem imun baik sel T maupun sel B atau autoantibodi melawan sel tubuh sendiri, atau autoantigen. Penyakit autoimun yang sering ditemukan seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang umum dikenal dengan penyakit lupus.

Di Indonesia, penyakit lupus memiliki angka kejadian LSE di Indonesia sebesar 0,5 % dari total populasi penduduk Indonesia. Penyakit autoimun belum bisa dipastikan penyebabnya dan gejalanya pun tidak khusus, akibatnya penyakit ini tidak mudah dikenali, sehingga memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosisnya.

Jumlah dokter ahli penyakit autoimun pun belum banyak di Indonesia, sehingga seringkali ketika dirujuk sudah parah karena tidak dikenali sejak dini. Melihat kejadian ini, Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi centre of excellence bagi mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi tentang penyakit autoimun.

(rel/rzd)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar