Kanker Bisa Lebih Bahaya Daripada Penyakit Jantung

Penulis: Christison Sondang Pane

Kanker Bisa Lebih Bahaya Daripada Penyakit Jantung

Sel-sel kanker terlihat pada layar besar yang terhubung ke mikroskop di pameran komputer CeBit di Hanover, Jerman, 6 Maret 2012. (Reuters/Fabian Bimmer/File Photo)

Rabu, 4 September 2019 | 11:19

Analisadaily - Kanker menjadi penyakit dan penyebab utama kematian di negara-negara kaya dan dapat menjadi pembunuh terbesar di dunia setelah penyakit jantung.

Menerbitkan temuan dua studi besar dalam jurnal medis The Lancet, para ilmuwan mengatakan mereka menunjukkan bukti transisi epidemiologis global baru antara berbagai jenis penyakit kronis.

Sementara penyakit kardiovaskular tetap, untuk saat ini, penyebab utama kematian di seluruh dunia di antara orang dewasa paruh baya terhitung 40 persen dari semua kematian, yang tidak lagi terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi. Kanker sekarang membunuh dua kali lebih banyak orang daripada jantung.

“Laporan kami menemukan kanker menjadi penyebab kematian paling umum kedua di dunia pada tahun 2017, terhitung 26 persen dari semua kematian. Tetapi ketika tingkat penyakit jantung terus turun, kanker kemungkinan bisa menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia, hanya dalam beberapa dekade,” kata Gilles Dagenais, seorang profesor di Universitas Laval Quebec di Kanada yang ikut memimpin penelitian ini.

Dilansir dari Reuters, Rabu (4/9), dari perkiraan 55 juta kematian di dunia pada 2017, para peneliti mengatakan, sekitar 17.7 juta disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, sekelompok kondisi yang meliputi gagal jantung, angina, serangan jantung dan stroke.

Sekitar 70 persen dari semua kasus dan kematian kardiovaskular disebabkan risiko yang dapat dimodifikasi seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diet, merokok dan faktor gaya hidup lainnya.

Di negara-negara berpenghasilan tinggi, pengobatan umum dengan statin penurun kolesterol dan obat-obatan tekanan darah telah membantu menurunkan tingkat penyakit jantung secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir.

Tim Dagenais mengatakan temuan mereka menunjukkan, tingkat kematian karena penyakit jantung yang lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah mungkin terutama disebabkan kualitas layanan kesehatan yang lebih rendah.

Penelitian ini menemukan tingkat rawat inap pertama dan penggunaan obat penyakit jantung secara substansial lebih rendah di negara-negara miskin dan berpenghasilan menengah daripada di negara kaya.

Penelitian ini adalah bagian dari studi Prospektif Urban dan Rural Epidemiologic (PURE), yang diterbitkan dalam The Lancet dan dipresentasikan pada Kongres ESC di Paris.

Negara yang dianalisis termasuk Argentina, Bangladesh, Brasil, Kanada, Chili, Cina, Kolombia, India, Iran, Malaysia, Pakistan, Palestina, Filipina, Polandia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Swedia, Tanzania, Turki, Uni Emirat Arab, dan Zimbabwe.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar