Jerawat Dianggap Epidemi Bagi Remaja

Penulis: Elfa Harahap | Editor: Lely Novita

Jerawat Dianggap Epidemi Bagi Remaja

Ilustrasi (Telegraph)

Senin, 18 Januari 2016 | 21:19

Analisadaily - Jerawat bukan masalah yang aneh. Jerawat kerap menjadi masalah bagi kebanyakan remaja karena dipengaruhi hormon.

Dr Stefanie Williams, direktur medis dari Eudelo (European Dermatology London), tidak berbasa-basi mengatakan apa masalah yang telah terjadi beberapa tahun belakangan ini pada remaja akibat jerawat.

Dia menilai, jerawat bagi remaja adalah sebuah epidemi yang sudah semakin banyak dialami para remaja. Baginya, peningkatan jumlah remaja yang terkena justru sudah menjadi fenomena yang tidak normal lagi di lingkungan.

"Ini seperti sebuah epidemi. Kita mendapatkan remaja yang mendertia jerawat. Hal ini penting untuk mengakui bahwa itu adalah penyakit kulit. Ini tidak normal,” kata Dr. Williams, seperti laporan dari Telegraph, Senin (18/1).

Memang, penelitian dari 92 klinik dermatologi swasta tahun lalu menemukan adanya kenaikan 200 persen remaja dan orang dewasa yang mencari pengobatan spesialis jerawat. Seperempat dari mereka mengunjungi dokter terkait masalah kulit yang mereka alami.

Perlu diketahui, wanita lima kali lebih mungkin mengalami jerawat dibandingkan pria karena fluktuasi hormon selama kehamilan, siklus menstruasi dan metode perubahan kontrasepsi (pil, coil atau patch). Jerawat disebabkan oleh kelebihan produksi minyak dari kelenjar sebaceous. Biasanya didorong karena perubahan kadar hormon yang menyebabkan adanya penyumbatan di pori-pori.

"Terlepas dari genetika, diet, perubahan hormon dan stres, memilih perawatan kulit yang salah juga berpengaruh besar. Pada usia tiga atau empat puluhan yang sudah melihat garis-garis dan kerutan mulai berinvestasi menggunakan perawatan anti-penuaan. Krim ini bisa sangat membebani kulit dan menyebabkan jerawat, jerawat rawan pada setiap individu,” kata Dr. Williams.

Dia menyarankan untuk mencoba produk bebas minyak seperti Oxygenetix atau Heliocare untuk tabir surya. Tingkat stres telah lama dikaitkan dengan kulit bermasalah, seperti hormon kortisol yang cukup berkontribusi  pada jerawat. Stres dipercaya dapat memicu datangnya jerawat, terutama pada wanita yang bekerja penuh waktu sekaligus membesarkan anak-anak.

"Ada begitu banyak pemicu, waktu, ketidakstabilan umum di banyak bagian dunia, wanita ditekan di kedua pekerjaannya, sebagai wanita karir dan sebagai ibu rumah tangga.”

British Skin Foundation menemukan 95 persen dari penderita jerawat mengatakan jerawat merupakan dampak dari kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, 63 persen orang berjerawat mengalami kepercayaan diri yang lebih rendah.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar