Haruskah Tidur dan Bangun Lebih Awal?

Penulis: Elfa | Editor: Reza Perdana

Haruskah Tidur dan Bangun Lebih Awal?

Ilustrasi (BBC)

Selasa, 15 Mei 2018 | 14:22

Analisadaily - Peningkatan risiko kematian dini, gangguan psikologis dan penyakit pernafasan adalah temuan yang sebelumnya dikaitkan dengan tidur larut dan bangun pagi lebih lama.

Tidur cepat dan bangun lebih awal di hari biasa menjadi rutinitas lumrah. Sedangkan di akhir pekan, Anda bisa tidur lebih lama dan bangun lebih lama pula. Ini mungkin terdengar normal. Padahal ini terjadi karena kita mengalami yang namanya ‘jet lag sosial’.

Ini adalah istilah untuk perbedaan antara ketika kita tidur selama seminggu dibandingkan dengan akhir pekan. Semakin besar jeda jet lag sosial, semakin besar masalah kesehatan, seperti peningkatan risiko penyakit jantung dan masalah metabolisme lainnya.

Menurut Till Roenneberg, profesor kronobiologi di Institute of Medical Psychology di Ludwig-Maximilian Universitas di Munchen, sebaiknya tidak memberikan jeda terlalu lama di hari biasa dibandingkan akhir pekan.

Sebaliknya, ini dipengaruhi oleh jam tubuh kita, dan sekitar 50% yang ditentukan oleh gen kita. Sisanya dibentuk oleh lingkungan dan usia. Di usia 20-an, biasanya kita lebih sulit bangun di pagi hari. Seiring bertambahnya usia, tubuh semakin progresif dan membuat bangun lebih awal.

Jam tubuh kita dipengaruhi oleh naik turunnya matahari. Dilansir dari BBC, Selasa (15/5), sayangnya, banyak dari kita mendapatkan sedikit sinar matahari di siang hari dan terlalu banyak cahaya buatan di malam hari.

Dengan mendapatkan sinar matahari di pagi hari dan mengurangi cahaya lampu di malam hari, kita dapat melatih jam tubuh untuk merasa mengantuk lebih awal. Memang, ini bukan proses yang mudah untuk semua orang.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar