Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Usus Besar

Penulis: Eka Azwin Lubis

Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Usus Besar

llustrasi (Ist)

Selasa, 19 Maret 2019 | 13:32

Analisadaily - Banyak orang menganggap kanker kolorektal sebagai hukuman mati yang mengerikan, karena pasien harus mengeluarkan feses melalui stoma yang mengeluarkan bau busuk sembari menunggu kematian.

Meskipun sebagian besar kanker kolorektal dianggap terjadi pada usia lanjut, sekitar 5% kanker dialami oleh mereka yang berusia di bawah 44 tahun dan 18% kanker kolorektal dialami mereka yang berusia di bawah 54 tahun.

Sebagian besar orang menghubungkan keluarnya darah atau sembelit dengan kanker kolorektal. Namun demikian, penting untuk diketahui bahwa secara umum, perdarahan atau sembelit tidak selalu menunjukkan gejala kanker dan gejala tersebut hanya ditunjukkan oleh sebagian pasien kanker.

Apa gejalanya?

Sebagian besar dokter keluarga memahami dengan baik gejala kanker kolorektal.

Pasien dengan kanker usus besar sebelah kanan menunjukkan gejala anemia (misalnya lemah, merasa pucat, dan mudah merasa sesak napas karena menurunnya kadar oksigen di dalam tubuh). Pasien dengan kanker usus besar sebelah kiri mungkin akan melihat perubahan kebiasaan BAB, sembelit yang berselang-seling dengan diare, dan darah kehitaman pada feses. Pasien dengan kanker rektum mungkin mengalami pengosongan usus yang tidak sempurna. Terkadang, pasien penderita kanker kolorektal dapat mengalami gejala-gejala umum seperti perut terasa tidak nyaman, begah, nyeri, atau bahkan sering kembung.

Namun demikian, kanker stadium awal umumnya tidak menunjukkan gejala apa pun. Sebagian besar polip (benjolan jinak) dan kanker kolorektal kecil biasanya tidak menunjukkan gejala apa pun. Hal ini karena lesi yang relatif lebih kecil tidak menghambat jalan feses, khususnya pada sebelah kanan usus tempat feses menjadi lebih lunak.

Bagaimana cara mencegah atau mengobati kanker kolorektal?

Faktanya, waktu terbaik untuk mencegah atau mengobati kanker kolorektal adalah saat belum ada gejala sama sekali.

Kanker kolorektal stadium dini biasanya tidak menunjukkan gejala apa pun dan deteksi dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan perawatan.

Selanjutnya, jamak diketahui bahwa adenokarsinoma, yakni jenis kanker usus yang paling umum, berkembang dalam adenoma (sejenis pertumbuhan nonkanker, atau polip jinak). Oleh karena itu, memotong polip jinak tersebut pada ujungnya berarti mengobati kemungkinan kanker kolorektal di waktu mendatang.

Kanker cenderung berada dalam stadium dini saat terdeteksi selama penapisan dan semakin banyak orang yang mampu bertahan hidup hingga 5 tahun setelah pertama kali didiagnosis.

Insiden kanker kolorektal meningkat tajam mulai usia 50 tahun dan waktu yang dibutuhkan bagi polip untuk berkembang menjadi kanker adalah 10 tahun atau lebih. Oleh karena itu, penapisan mulai umur 40 tahun memungkinkan deteksi dini kanker dan polip. Penurunan insiden kanker kolorektal belakangan ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya penapisan kolonoskopi dan pengangkatan polip.

Mendeteksi kanker kolorektal sejak dini

Tes darah samar dalam feses telah digunakan sebagai penapisan secara luas. Tes terbaru menggunakan antibodi untuk mendeteksi komponen globin dalam darah secara akurat. Tes ini menunjukkan hasil yang sama baiknya dengan tes terdahulu yang mendeteksi heme di dalam feses – yang mungkin mengharuskan pembatasan pola makan secara ketat selama 3 hari sebelum pengujian untuk menjamin keakuratan hasil tes. Uji feses ini dapat secara tepat mengidentifikasi atau mengesampingkan penyakit dengan tingkat keakuratan antara 70 – 90%.

Untuk pengujian yang lebih akurat, usus besar dapat dievaluasi melalui kolonoskopi, atau prosedur radiologi, seperti enema barium (disebut juga sebagai sinar-x usus besar), atau kolonografi CT (disebut juga sebagai kolonoskopi virtual).

Untuk pemeriksaan yang optimal dengan prosedur di atas, pasien harus menyiapkan usus mereka, yaitu mengosongkan usus besar dengan menggunakan obat pada malam hari sebelumnya. Meskipun umumnya kolonoskopi dianggap invasif dan berisiko menusuk organ, pemeriksaan radiologi juga menimbulkan risiko tertusuk (lebih rendah), mengingat bahwa diperlukan udara untuk mengembangkan usus besar. Kolonoskopi juga menawarkan keuntungan berupa penggunaan obat penenang, pengangkatan benjolan jinak (polip) dan jaringan untuk biopsi, dan dapat dengan mudah membedakan antara luka dengan feses yang melekat padanya.

Pembedahan adalah opsi pengobatan yang dapat diambil

Pembedahan tetap menjadi perawatan utama bagi kanker kolorektal. Dengan kemajuan teknologi kedokteran saat ini, pembedahan laparoskopi dapat menjadi opsi standar, dengan pembedahan terbuka bagi penderita kanker berukuran sangat besar atau kanker yang sudah menyebar ke area di sekitarnya. Pembedahan robotik dapat digunakan untuk menangani kanker rektum dalam rongga pelvis yang sempit.

Beberapa pasien mungkin merasa jengkel dengan stoma, lubang untuk mengeluarkan feses atau urine ke dalam kantong di luar tubuh. Pembuatan stoma sementara biasanya dilakukan untuk tumor rektum yang berada di dekat anus, sementara stoma permanen diperlukan jika sfingter anal terkena tumor dan terpaksa diangkat. Stoma sementara dapat ditutup paling cepat 1 bulan setelah pembedahan. Bagi pasien yang perlu menggunakan stoma, sebagian besar perlengkapan stoma dapat dipakai secara tersembunyi dan tidak akan bocor atau berbau.

Kemoterapi digunakan setelah pengobatan awal terhadap kanker stadium 3 serta stadium 2 yang berisiko tinggi untuk kambuh. Radioterapi hanya digunakan untuk kanker rektum atau meredakan gejala serta efek samping pengobatan kanker tersebut.

Artikel telah ditinjau oleh Dr Ho Kok Sun, dokter spesialis bedah umum di Rumah Sakit Mount Elizabeth.

Tanyakan masalah seputar kesehatan usus, masalah kesehatan lainnya atau
informasi lebih lanjut di sini.

Berita Terkait :

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar