Dinas Kesehatan Tetapkan Kejadian Luar Biasa Difteri di USU

Dinas Kesehatan Tetapkan Kejadian Luar Biasa Difteri di USU

Ilustrasi pemberian vaksin (Pixabay)

(jw/csp)

Selasa, 24 September 2019 | 11:15

Analisadaily (Medan) - Dinas Kesehatan Sumatera Utara menetapkan status Kejadian Luar Biasa difteri di Fakultas Kedokteran USU, setelah meninggalnya seorang mahasiswi, Nurul Arifah Ahmad Ali, warga Malaysia di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, karena virus difteri, Sabtu (21/9).

Hal itu dibenarkan Kepala Dinkes Sumut, dr Alwi Mujahit Hasibuan. "Ia benar, itu KLB. Kalau difteri dan beberapa penyakit, begitu ada kasus langsung ditetapkan KLB," kata dr Alwi, Selasa (24/9).

Menurut Alwi, status KLB akan dicabut kalau sudah benar-benar aman. "Ini kami sudah dan sedang melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memastikan itu difteri atau terkonfirmasi kuman difteri," ucapnya.

Alwi mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan tindakan Outbreak Response Immunization (ORI) dengan mengimunisasi orang-orang yang kontak dengan korban selama di Medan.

Ia juga menuturkan, korban sempat pulang ke Kuala Lumpu dan ke Selangor pada 13 - 15 September 2019, dan balik ke Indonesia dengan riwayat demam.

"Jadi kami sudah imunisasi orang-orang yang kontak dengan korban. Dan, imunisasi sudah dilakukan terhadap 290 orang yang mayoritas mahasiswa FK USU. Saat ini, kami juga belum tahu di mana korban tepatnya terkena virus difteri," ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, meninggalnya Nurul menjadi pemberitaan media Malaysia. Nurul sempat dikhawatirkan meninggal karena kondisi udara yang kian tak sehat di wilayah Sumatera.

Namun, Direktur Pendidikan Malaysia di Indonesia, Prof, Mior Harris Mior Harun menjelaskan, Nurul yang masuk RSUPHAM hari Jumat (20/9) meninggal karena terkena penyakit diferti.

Berdasarkan laporan di media dan pihak berwenang, kualitas udara di Medan masih lumayan bagus dibanding daerah lainnya, seperti Pekanbaru dan Jambi yang dikategorikan tidak sehat.

Sementara itu, Kasubag Humas RSUP H. Adam Malik Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak membenarkan Nurul meninggal di RSUPHAM. "Ia, jenazahnya sudah dipulangkan Sabtu sore," katanya.

Rosario mengatakan, pasien hanya dirawat satu malam setelah masuk Jumat (20/9) dan meninggal Sabtu (21/9) sekitar jam 2.30 WIB.

“Nurul sempat dirawat di RS USU lalu dirujuk ke RSUPHAM. Sejauh ini, penyebab kematian adalah suspect difteri bukan karena asap. Secara klinis sudah mengarah ke difteri, tapi harus kita pastikan lagi, kita tunggu hasil lab dari Jakarta dalam seminggu ini ya. Sebelum pasien meninggal, kita sudah ambil spesimen swab dari pasien, langsung dikirim ke Jakarta, hasilnya satu minggu," tegasnya.

Difteri adalah infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan. Meski tidak selalu menimbulkan gejala, penyakit ini biasanya ditandai oleh munculnya selaput abu-abu yang melapisi tenggorokan dan amandel.

Bila tidak ditangani, bakteri difteri bisa mengeluarkan racun yang dapat merusak sejumlah organ, seperti jantung, ginjal, atau otak. Difteri tergolong penyakit menular berbahaya dan berpotensi mengancam jiwa.

(jw/csp)

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar